Melihat Potensi Masyarakat Negeri Patimura di Bidang Kelautan

- 22 November 2020, 09:17 WIB
Ikan Nemo, yang merupakan salah satu primadona ikan hias laut, yang saat ini sedang dikembangkan di Ambon/pixabay /Arahkata.com

ARAHKATA – Masyarakat Indonesia Timur diketahui merupakan masyarakat yang mandiri. Kemampuan masyarakatnya dalam menjaga wilayahnya tak dapat dipungkiri. Salah satunya wilayah Ambon yang diketahui sebagai wilayah Pahlawan Nasional Patimura berasal, tercatat memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang mumpuni pada sektor kelautan dan perikanan.

Produksi akan ikan hias lautnya, sangat membanggakan. Budidaya ikan laut di Teluk Ambon sangat potensial karena memiliki perairan tenang, dengan kedalaman ambang antara 9 - 13 meter.

Untuk meningkatkan potensi budidaya serta menciptakan peluang usaha baru di bidang budidaya perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon, Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan KP, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), menyelenggarakan Pelatihan Pembesaran Ikan Hias Nemo dengan Resirculating Aquaculture System (RAS) pada 20 November 2020, lalu.

Teknologi RAS merupakan teknologi yang menerapkan sistem budidaya ikan secara intensif dengan menggunakan infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan air secara terus-menerus (resirkulasi air).

Baca Juga: Kemenperin Nilai Peran Pelabuhan Sangat Penting Dalam Perdagangan Internasional

Pemanfaatan tersebut seperti fisika filter, biologi filter, ultra violet (UV), generator oksigen yang berfungsi untuk mengontrol dan menstabilkan kondisi lingkungan ikan.

Beberapa keunggulan penggunaan teknologi RAS adalah mampu mempertahankan kualitas air dengan baik, menghemat penggunaan air, meningkatkan tingkat survival rate (SR), meningkatkan performa ikan nemo (clownfish) dan dapat diusahakan pada lahan yang terbatas.

“Budidaya ikan hias, nemo contohnya, dapat menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan serta mudah dijalankan. Selain tidak membutuhkan lahan yang luas, juga tidak harus memulainya dengan modal besar. Pelaku usaha ikan hias harus menangkap peluang ini," ujar Sekretaris BRSDM, Kusdiantoro, dalam suatu kesempatan.

Dengan optimalisasi dan efisiensi sistem budidaya, tentunya dapat mengeliminir permasalahan-permasalahan terkait dengan budidaya nemo, sehingga kegiatan budidaya ikan hias di Provinsi Maluku dapat berjalan lebih optimal,” lanjutnya.

Halaman:

Editor: Mohammad Irawan


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X