AJI Sebut Kekerasan Terhadap Jurnalis Perempuan Tinggi, Pentingnya Upaya Antisipasi

- 29 Maret 2024, 10:22 WIB
Jurnalis perempuan/mike_ramirez_mx / 404 images
Jurnalis perempuan/mike_ramirez_mx / 404 images /

ARAHKATA - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sasmito Madrim menyebut angka kekerasan terhadap jurnalis perempuan berdasarkan Indeks Keselamatan Jurnalis 2023 yang dirilis Yayasan Tifa.

Sebagai bagian dari Konsorsium Jurnalisme Aman berkolaborasi dengan lembaga survei Populix menunjukkan kondisi di lapangan saat ini perlu diintervensi.

"Kalau kita cek di hasil riset, korbannya sebagian besar adalah teman-teman jurnalis perempuan. Padahal, jurnalis perempuan dalam riset ini jumlahnya sangat sedikit. Artinya, ada persoalan serius di dunia pers kita yang tidak membuat teman-teman jurnalis perempuan di Indonesia menjadi lebih aman," kata Sasmito di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis, 28 Maret 2024.

 Baca Juga: KPK Resmi Tetapkan Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil tersangka TPPU

Oleh sebab itu, ia mengatakan bahwa upaya intervensi diperlukan agar terjadinya perubahan di masa depan.

Sementara itu, ia juga menyoroti kurangnya standar operasional prosedur (SOP) yang terdapat pada perusahaanperusahaan pers di Indonesia.

"Perusahaan-perusahaan pers yang ada SOP kekerasan seksual itu bisa dihitung jari, termasuk di Dewan Pers periode sebelumnya, belum ada SOP kasus kekerasan terhadap jurnalis. Baru di periode sekarang dibuat SOP, dan mudah- mudahan bisa diadopsi perusahaan-perusahaan pers," ujarnya.

Baca Juga: Putusan Diskualifikasi Prabowo-Gibran Bisa Terjadi dalam Sidang Sengketa Pilpres 2024 

Sebelumnya, dalam Indeks Keselamatan Jurnalis 2023 tersebut, Yayasan Tifa dan Populix mengungkapkan 45 persen jurnalis dari 536 responden mengaku mengalami kekerasan saat bekerja selama 2023.

Halaman:

Editor: Wijaya Kusnaryanto


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Pemilu di Daerah

x